SEKOLAH BERBASIS KEJUJURAN
Ditulis oleh : Siti Nurjanah M *
Belajar yang bahasa kerennya
menuntut ilmu, sudah menjadi sunatulloh pasti harus ditempuh oleh orang yang
terlahir dimuka bumi ini.
Bayi yang terlahir, pelajaran pertama yang ia lakukan,
mencari rezkinya dari ASI ibunya. Ia juga belajar berkomunikasi
dengan lingkungan sekitar, ketika ia ingin meminta tolong untuk
kenyamanan dan keperluan hidupnya, dengan tangisan yang menjadi bahasa
isyarat.
Ketika usia bayi bertambah, guru mereka adalah orang-orang disekitar mereka
yang sering mengajak berkomunikasi maupun mengajarkan mereka untuk menggerakkan
tubuh mereka, agar terlatih dalam mengoptimalkan kemampuan gerak.Bahkan dalam
penelitian, pada dasarnya pembelajaran pada bayi telah dimulai pada saat
bayi masih didalam janin. Semua proses pembelajaran dari sikap dan emosi ibu
yang mengandungnya, akan menjadi dasar dari sikap dan emosi anak dikemudian
hari.
Saat usia sekolah, orangtua mengajak anak-anak ke sekolah dengan harapan
membantu orang tua dalam mendapatkan ilmu, agar anak-anak dapat mengembangkan
potensi dirinya dengan seoptimal mungkin, agar anak-anak dapat menjalani hidup
dengan bahagia dan rasa syukur.Agama samawi manapun, pasti mengajarkan
dasar-dasar bagaimana mendapatkan kebahagiaan hidup, baik didunia ini maupun di
dunia selanjutnya. Dan kejujuran dalam menjalani hidup menjadi salah satu
fondasi pembentukan karakter manusia, untuk menjadi manusia yang kuat, pekerja
keras dan pantang menyerah.
Sistem pendidikan yang dibangun di era yang katanya reformis ini, dimana biaya pendidikan untuk kalangan kurang mampu telah disubsidi dengan harapan anak-anak indonesia dapat mengenyam bangku pendidikan paling tidak setingkat SMU, tidak diikuti dengan sistem yang mengajarkan kejujuran maupun memberi dukungan pada pihak pengajar (guru ) untuk meberikan nilai yang jujur atas kemampuan akademik anak didik. Aturan bahwa setiap anak didik haruslah naik kelas ( tidak boleh tinggal kelas ), telah memaksa guru untuk melakukan manipulasi nilai. Yang bahkan menghawatirkan jika keadaan itu diberlakukan juga atas anak-anak tingkat sekolah dasar, yang mengawali "PENGETAHUAN YANG MENDASAR" sebagai fondasi atas serapan ilmu di jenjang pendidikan tingkat lanjut.
Memang jika dihitung dengan kalkulasi atas biaya pendidikan yang DISUBSIDI PEMERINTAH, maka akan banyak penambahan biaya. TAPI HARUS DIINGAT, SISTEM PENDIDIKAN YANG MENGHARUSKAN ANAK DIDIK NAIK KELAS, TELAH MEMBENTUK KARAKTER ANAK YANG TIDAK PERCAYA PADA DIRI SENDIRI. Jika karakter ini membentuk kepribadiannya, biaya yang dikeluarkan dikemudian hari saat mereka menjadi pemimpin akan lebih besar lagi. Belum lagi, dosa yang kita pikul, karena membiarkan anak-anak dalam didikan sistem yang manipulatif. Akhirnya " KETUHANAN YANG MAHA ESA " hanya menjadikan Tuhan sebagai Pembantu untuk mengurusi ambisi-ambisi kita dan bukan Tuhan yang kita jadika Tuan untuk kita tunduki. Jika demikian yang terjadi, maka kita memang tinggal menunggu kehancuran bangsa ini, saat rakyatnya lemah jiwa dan kepribadinya lalu bangsa yang kuat siap untuk menjajah.
SOLUSI DAN ALTERNATIS BAGI ANAK DIDIK
DALAM RANGKA MEMBANGUN SEKOLAH
BERBASIS KEJUJURAN
Ditulis
oleh : Siti Nurjanah M *
Sudah menjadi budaya dan cara berfikir orang tua pada umumnya,
bahwa pendidikan adalah tanggung jawab sepenuhnya sekolah. Mayoritas orangtua hanya
tau bahwa urusan menulis, membaca, berhitung, urusan agama dll, semua adalah
urusan sekolah. Orang tua hanya tau “mencari” biaya dan mengantar anak sekolah.
Pada realitasnya, tidak semua
anak trampil dalam mengikuti pembelajaran di Sekolah. Mereka yang tidak
terlatih belajar dirumah, akan mengalami kondisi lambat mengikuti pelajaran.
Disisi lain guru dituntut untuk menyelesaikan kurikulum pembelajaran yang telah
ditetapkan oleh pemerintah. Keadaan yang demikian masih lagi dibebani dengan
aturan anak didik tidak boleh tinggal kelas.
Jika dalam dunia pendidikan,
Pemerintah membolehkan anak didik melakukan lompatan kelas karena dianggap
mampu yang dalam istilah kerennya “ Axelerasi”, semestinya jika azas
berkeadilan dalam dunia pendidikan dengan fondasi kejujuran, kelas “ khusus”
bagi anak-anak disekolah umum yang
kurang trampil dalam mengikuti pembelajaran juga disediakan.
Jika kelas axelerasi memberikan
kesempatan anak didik untuk memuntut ilmu yang semestinya 3 tahun menjadi hanya
2 tahun. Maka , kelas khusus memberikan kesempatan pada anak didik
menyelesaikan kurikulum mata pelajaran yang semestinya 1 tahun menjadi 11/2 (
satu setengah ) tahun . Dengan harapan, anak-anak tidak harus tinggal kelas dan
Guru mampu memberikan nilai dengan “sejujurnya”.
Keyakinan kita akan keberadaan
Tuhan Yang Maha Esa, dengan segala KuasaNya akan teruji disini. Bagaimana
dengan biaya tambahan ½ tahunnya ? Ketika kita mengajarkan kejujuran sebagi
bukti ketundukan dan ketaatan kita pada Tuhan Yang Maha Esa, maka Tuhan beserta
malaikat-malaikatnya di langit pasti tidak akan tinggal diam. Rezeki pasti akan
dibukakan dari langit maupun bumi. Yang kemudian harus kita sisapkan, agar kita
mampu mensyukuri rezeki itu seperti yang Tuhan kehendaki, agar rezeki yang
diberikan Tuhan tidak berubah menjadi malapetaka. Aamiinn.
* Pemerhati anak aktif dikegiatan kepantian dan pendidikan Al Qur'an.
SEKOLAH BERBASIS KEJUJURAN
Ditulis oleh : Siti Nurjanah M *
Ditulis oleh : Siti Nurjanah M *
Bayi yang terlahir, pelajaran pertama yang ia lakukan, mencari rezkinya dari ASI ibunya. Ia juga belajar berkomunikasi dengan lingkungan sekitar, ketika ia ingin meminta tolong untuk kenyamanan dan keperluan hidupnya, dengan tangisan yang menjadi bahasa isyarat.
Ketika usia bayi bertambah, guru mereka adalah orang-orang disekitar mereka yang sering mengajak berkomunikasi maupun mengajarkan mereka untuk menggerakkan tubuh mereka, agar terlatih dalam mengoptimalkan kemampuan gerak.Bahkan dalam penelitian, pada dasarnya pembelajaran pada bayi telah dimulai pada saat bayi masih didalam janin. Semua proses pembelajaran dari sikap dan emosi ibu yang mengandungnya, akan menjadi dasar dari sikap dan emosi anak dikemudian hari.
Saat usia sekolah, orangtua mengajak anak-anak ke sekolah dengan harapan membantu orang tua dalam mendapatkan ilmu, agar anak-anak dapat mengembangkan potensi dirinya dengan seoptimal mungkin, agar anak-anak dapat menjalani hidup dengan bahagia dan rasa syukur.Agama samawi manapun, pasti mengajarkan dasar-dasar bagaimana mendapatkan kebahagiaan hidup, baik didunia ini maupun di dunia selanjutnya. Dan kejujuran dalam menjalani hidup menjadi salah satu fondasi pembentukan karakter manusia, untuk menjadi manusia yang kuat, pekerja keras dan pantang menyerah.
Sistem pendidikan yang dibangun di era yang katanya reformis ini, dimana biaya pendidikan untuk kalangan kurang mampu telah disubsidi dengan harapan anak-anak indonesia dapat mengenyam bangku pendidikan paling tidak setingkat SMU, tidak diikuti dengan sistem yang mengajarkan kejujuran maupun memberi dukungan pada pihak pengajar (guru ) untuk meberikan nilai yang jujur atas kemampuan akademik anak didik. Aturan bahwa setiap anak didik haruslah naik kelas ( tidak boleh tinggal kelas ), telah memaksa guru untuk melakukan manipulasi nilai. Yang bahkan menghawatirkan jika keadaan itu diberlakukan juga atas anak-anak tingkat sekolah dasar, yang mengawali "PENGETAHUAN YANG MENDASAR" sebagai fondasi atas serapan ilmu di jenjang pendidikan tingkat lanjut.
Memang jika dihitung dengan kalkulasi atas biaya pendidikan yang DISUBSIDI PEMERINTAH, maka akan banyak penambahan biaya. TAPI HARUS DIINGAT, SISTEM PENDIDIKAN YANG MENGHARUSKAN ANAK DIDIK NAIK KELAS, TELAH MEMBENTUK KARAKTER ANAK YANG TIDAK PERCAYA PADA DIRI SENDIRI. Jika karakter ini membentuk kepribadiannya, biaya yang dikeluarkan dikemudian hari saat mereka menjadi pemimpin akan lebih besar lagi. Belum lagi, dosa yang kita pikul, karena membiarkan anak-anak dalam didikan sistem yang manipulatif. Akhirnya " KETUHANAN YANG MAHA ESA " hanya menjadikan Tuhan sebagai Pembantu untuk mengurusi ambisi-ambisi kita dan bukan Tuhan yang kita jadika Tuan untuk kita tunduki. Jika demikian yang terjadi, maka kita memang tinggal menunggu kehancuran bangsa ini, saat rakyatnya lemah jiwa dan kepribadinya lalu bangsa yang kuat siap untuk menjajah.
SOLUSI DAN ALTERNATIS BAGI ANAK DIDIK
DALAM RANGKA MEMBANGUN SEKOLAH
BERBASIS KEJUJURAN
Ditulis
oleh : Siti Nurjanah M *
Sudah menjadi budaya dan cara berfikir orang tua pada umumnya,
bahwa pendidikan adalah tanggung jawab sepenuhnya sekolah. Mayoritas orangtua hanya
tau bahwa urusan menulis, membaca, berhitung, urusan agama dll, semua adalah
urusan sekolah. Orang tua hanya tau “mencari” biaya dan mengantar anak sekolah.
Pada realitasnya, tidak semua
anak trampil dalam mengikuti pembelajaran di Sekolah. Mereka yang tidak
terlatih belajar dirumah, akan mengalami kondisi lambat mengikuti pelajaran.
Disisi lain guru dituntut untuk menyelesaikan kurikulum pembelajaran yang telah
ditetapkan oleh pemerintah. Keadaan yang demikian masih lagi dibebani dengan
aturan anak didik tidak boleh tinggal kelas.
Jika dalam dunia pendidikan,
Pemerintah membolehkan anak didik melakukan lompatan kelas karena dianggap
mampu yang dalam istilah kerennya “ Axelerasi”, semestinya jika azas
berkeadilan dalam dunia pendidikan dengan fondasi kejujuran, kelas “ khusus”
bagi anak-anak disekolah umum yang
kurang trampil dalam mengikuti pembelajaran juga disediakan.
Jika kelas axelerasi memberikan
kesempatan anak didik untuk memuntut ilmu yang semestinya 3 tahun menjadi hanya
2 tahun. Maka , kelas khusus memberikan kesempatan pada anak didik
menyelesaikan kurikulum mata pelajaran yang semestinya 1 tahun menjadi 11/2 (
satu setengah ) tahun . Dengan harapan, anak-anak tidak harus tinggal kelas dan
Guru mampu memberikan nilai dengan “sejujurnya”.
Keyakinan kita akan keberadaan
Tuhan Yang Maha Esa, dengan segala KuasaNya akan teruji disini. Bagaimana
dengan biaya tambahan ½ tahunnya ? Ketika kita mengajarkan kejujuran sebagi
bukti ketundukan dan ketaatan kita pada Tuhan Yang Maha Esa, maka Tuhan beserta
malaikat-malaikatnya di langit pasti tidak akan tinggal diam. Rezeki pasti akan
dibukakan dari langit maupun bumi. Yang kemudian harus kita sisapkan, agar kita
mampu mensyukuri rezeki itu seperti yang Tuhan kehendaki, agar rezeki yang
diberikan Tuhan tidak berubah menjadi malapetaka. Aamiinn.
* Pemerhati anak aktif dikegiatan kepantian dan pendidikan Al Qur'an.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar